Kau menyebut dirimu adalah rumah ternyaman untukku pulang.
Tetapi rumah itu kau bangun dengan pagar tembok yang sangat tinggi, memaksa ku memanjatnya tanpa tangga yang tak kau sediakan, aku mencoba memakai tali, tali itupun kau potong, aku coba memanjatnya berkali kali tapi hasilnya hanyalah jatuh berkali kali, aku coba menghancurkan tembok itu sampai berdarah darah hasilnya retak pun tak ada. Segala cara telah ku coba, namun mendekati berhasil pun tidak, lantas dengan cara apa aku bisa masuk ke rumah itu ? Kaupun tak pernah memberikan jawaban,
Kau hanya terdiam dengan raut penuh harap seakan menunggu kedatanganku masuk ke dalam rumah itu, membuatku merasa di antar bangkit dan menyerah.
Bangkit untuk berjuang masuk merasakan lagi jatuh bangun dan sakitnya perjuangan yang sama atau menyerah dan melupakan rumah yang menungguku.
Pertikaian dalam diri pun terjadi, pertanyaan yang selalu membayangi pun terus menghantui, Apa yang harus kau lakukan sekarng ? “Tanya hati kepada diri sendiri”
Hati yang selalu bertanya ini, seakan juga selalu memberi semangat kepada diri untuk tidak berhenti berjuang, dengan selalu berkata “Cinta tak punya batas untuk diperjuangkan”,