Kau menyebut dirimu adalah rumah ternyaman untukku pulang.
Tetapi rumah itu kau bangun dengan pagar tembok yang sangat tinggi, memaksa ku memanjatnya tanpa tangga yang tak kau sediakan, aku mencoba memakai tali, tali itupun kau potong, aku coba memanjatnya berkali kali tapi hasilnya hanyalah jatuh berkali kali, aku coba menghancurkan tembok itu sampai berdarah darah hasilnya retak pun tak ada. Segala cara telah ku coba, namun mendekati berhasil pun tidak, lantas dengan cara apa aku bisa masuk ke rumah itu ? Kaupun tak pernah memberikan jawaban,
Kau hanya terdiam dengan raut penuh harap seakan menunggu kedatanganku masuk ke dalam rumah itu, membuatku merasa di antar bangkit dan menyerah.
Bangkit untuk berjuang masuk merasakan lagi jatuh bangun dan sakitnya perjuangan yang sama atau menyerah dan melupakan rumah yang menungguku.
Pertikaian dalam diri pun terjadi, pertanyaan yang selalu membayangi pun terus menghantui, Apa yang harus kau lakukan sekarng ? “Tanya hati kepada diri sendiri”
Hati yang selalu bertanya ini, seakan juga selalu memberi semangat kepada diri untuk tidak berhenti berjuang, dengan selalu berkata “Cinta tak punya batas untuk diperjuangkan”,
x
Di tengah dilema yang menyerang, di tengah perang batin untuk menyerah atau mengatur kembali strategi memulai lagi perjuangan, tiba-tiba saja seseorang datang begitu saja ke kehidupanmu, dengan mudahnya dia mengalihkan pandanganmu terhadap ku yang berjuang, pagar tembok yang kau bangun begitu tinggi sebelumnya, kau sendiri yang hancurkan sampai membuatmu berdarah darah dan sakit yang sama, demi membuat dia bisa masuk ke tempat yang kau selalu sebut Rumah Untukku Pulang.
Yah dengan tanpa perjuangan dia menjadikanmu rumahnya, atau mungkin kau yang memilihnya untuk tinggal,
Dan saya.. ?.
Hanya bisa terdiam melihat atas apa yang kau lakukan untuk dia, seakan saya tak pernah ada.
Akhirnya hanya pandangan kosong yang tampak di mukaku, muka yang seakan protes dan berkata dengan keras :
.
“Siapa dia ?.
Kenapa dia bisa ... ?.
Apakah saya salah mengartikan dan menerjemahkan kata demi kata yang kau bilang dirimu adalah rumah untukku pulang ?, sehingga saya berjuang untuk itu !.”
.
Pertanyaan pertanyaan pun serentak melintas dalam pikiran atas judul dan tema yang sama,
Ingin menemuimu dan bertanya, tapi sejengkal pun tak dapat melangkah, seakan rasa kecewa lebih besar dari rasa ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya,
Rasa-rasanya percuma saja, mulutpun tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata, menerima penjelasan pun sepertinya tak akan bisa.
Rasa sakit yang lebih dari rasa sakit yang pernah dirasakan akhirnya tumbuh subur, patah sepatah patahnya, jatuh sejatuh jatuhnya, pahit sepahit pahitnya, kecewa yang teramat sangat besar terjadi, membuat hati tak perlu waktu lama untuk berubah arah. Hati yang sebelumnya hanya berisi Cinta dan kasih sayang kepadamu hilang dan jatuh ke tempat paling gelap, tergantikan dengan segala macam sumpah serapah dan caci makian kepadamu, ingin berontak dan demo kepada takdir yang membantah harapan. Tapi apalah daya, bagai menahan datangnya malam untuk menikmati senja yang lebih lama. Tak bisa dan sekali lagi tak berdaya yang terjadi hanyalah menikmati derasnya air mata.
Rasa tanda tanya dan sakit hati yang bgitu besar membuat Logika memainkan perannya, berusaha menenangkan hati dan mengambil kontrol atas diri, sebelum kekacauan besar terjadi, mengajak berbalik badan untuk tak terlihat bodoh di depan mereka, sambil menarik nafas panjang ku palingkan muka yang memerah karena amarah, aku paksakan melangkah ke arah jalan yang tak tau ke mana tujuannya demi menghentikan derasnya air mata, aku hapus bayanganmu yang terlukis dengan tinta permanen, aku robek kertas yang berisi sajak sajak indah perjuanganku, sambil memungut sisa-sisa hati yang berhamburan,
.
“Sudahlah”
Menjadi kata terampuh untuk menenangkan segalanya, tak ada lagi tanya juga tak ada lagi jawaban yang aku inginkan.
Langkah demi langkah melawati waktu yang tak berhenti berputar aku lalui, sambil melupakanmu, tak jarang aku berhenti, menikmati segelas kopi tanpa gula, menikmati warna emas yang dihasilkan senja, menikmati alunan nada, bukan untuk mengingat cerita, tapi untuk rehat dan membuka peta jalan yang harus aku tuju. Sajak penyemangat jadi sahabat terbaik, membuat rintik hujan tak menghasilkan makna rindu, mengabaikan konspirasi atas gelapnya malam untuk bertemu dengan kenangan. Semua tak ada lagi. Aku menjadi aku yang sebelum mengenalmu.
Sampai di suatu waktu, aku mendapatimu sendiri dipertigaan arah jalanku, terhenti langkah kaki ini, sejenak ku perhatikan muka itu tampak lusuh dan layu tak jauh beda terlihat seperti aku atas apa yang kau pernah perbuat atas diriku, hati ingin bertanya apa yang terjadi dengan dirimu, tapi logika menentang, bukan karena tak perduli atas dasar sesama ciptaan, tapi yang logika lihat hanyalah jurang yang sama diujung jalan yang kau tempati, lagi lagi kata sudahlah yang ada dibenak, sambil berjalan menghindarimu, tiba-tiba tangan ini kau pegang, terhenti langkah kakiku, aku berusaha melempar senyum, dan kau balas dengan tanya,
.
“Apa kabar kamu ?”
.
“Baik”
.
Inginku, langsung beranjak saat itu juga, tapi genggaman tanganmu tak kau lepas, berusaha menarik ke arah mu untuk ikut duduk disampingmu,
menyesal karena telah melempar senyum yang kau jadikan alasan bahwa aku masih orang yang sama yang berjuang untukmu.
Permintaan maaf, penjelasan demi penjelasan kau berikan, meski semua tanya tak pernah sempat aku tanyakan, semuanya terjawab saat itu. Aku hanya terdiam sambil mengangguk di sela sela tarikan nafas penjelasanmu dan kisah derita yang kau alami.
Dan benar pandanganku, kau sedang berada dijalan berpaling dari dia yang menghancurkanmu.
.
“Sudah punya pasangan sekarang ?” -Tanyamu yg penuh ragu-ragu
.
“Belum lah, masih menikmati kesendirian, aku masih asik mengomentari rezim pemerintahan saat ini, mengamati politik dunia, bukan mau jadi politikus, cuma heran saja dengan janji2 palsu dan kebohongan2 yang diberikan tapi masih bnyak yang mau ikut dan percaya ”
.
Sesekali jawaban yang aku berikan keluar dari konteks tema ceritamu, dengan maksud tersirat yang mau aku sampaikan bahwa aku tak ingin membahas kita lagi, tapi lagi lagi kau memaksa kembali ke tema.
.
“Aku mau TO BE CONTINUE.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar